"Kami yang di marjinalkan"
Entah bawaan lahir atau yang lainya.
Yang kaya akan tetap terasa kaya,dan yang merasa dirinya kaya akan tetap hanya merasa.
Merasa di marjinalkan tepatnya, untuk kami dan garis turunya.
Perihal roda pasti berputar?
Itu hanya masalah waktu.
Tapi kapan?
Kapan roda itu akhirnya beranjak pergi dan memutar?
Memutar semua omongan dan tingkah laku mereka yang merasa di dewakan?
Akankah kita dibalik layar terus menerus dan di bawah layaknya hitamnya ampas kopi?
Ataukah perlu jalan "salah" kita jalankan?
Dimanakah terang itu?
Aku bertanya pada kaca dalam hati kecilku dan tak sempat ku sampaikan pada si marjinal.
Kuharap mereka masih tenang saat alunan keroncong berbunyi di perutnya.
Komentar
Posting Komentar